mari berwakaf jariyah masjid, wakaf tanah, wakaf tunai wakaf uang wakaf melalui uang Wakaf Produktif, Wakaf Jariyah Pahala Tanpa putus Wakaf produktif memberi keberkahan untuk penerima manfa
mari berwakaf jariyah masjid, wakaf tanah, wakaf tunai wakaf uang wakaf melalui uang
Wakaf Produktif, Wakaf Jariyah Pahala Tanpa putus
Wakaf produktif memberi keberkahan untuk penerima manfaatnya juga bagi wakif atau orang yang berwakaf memberikan wakaF uangnya.
Manfaat (pahala jariyah) bagi wakif akan mengalir tanpa putus menjadi nilai investasi jariyah. Keberkahan wakaf dilakukan oleh sahabat Utsman bin Affan radiyallaahu ‘anhu. Sudah 1.400 tahun lebih dari masa kehidupannya, namun amal kebaikan yang dilakukan beliau saat hidup, terus bermanfaat dan beranak pinak hingga kini.
Amal kebaikan yang langgeng selama ini adalah beliau mewakafkan sebuah sumber air (sumur) untuk penduduk Madinah. Saat itu kota Madinah sedang mengalami paceklik hingga kesulitan air bersih, sehingga satu-satunya sumber air yang tersisa hanyalah Sumur Raumah milik seorang Yahudi. Penduduk Madinah harus rela antri dan membayar mahal untuk mendapatkan air dari sumur ini.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang prihatin melihat kondisi ini kemudian bersabda: “Wahai sahabatku, siapa saja di antara kalian yang menyumbangkan hartanya untuk dapat membebaskan sumur itu, lalu menyumbangkannya untuk umat, maka akan mendapat surgaNya Allah Ta’ala” (HR. Muslim)
Utsman bin Affan radiyallaahu ‘anhu segera bertindak cepat, ia mendatangi Yahudi pemilik sumur Raumah itu untuk negosiasi, Yahudi tersebut enggan menjual penuh sumur itu karena khawatir kehilangan sumber penghasilannya.
dengan karunia akal juga kecerdasan bersosial Ustman bernegosiasi untuk membeli setengah sumur tersebut seharga puluhan ribu dirham (Milyaran Rupiah), dengan pembagian satu hari sumur itu miliknya, satu hari selanjutnya milik si Yahudi tersebut, bergantian satu hari-satu hari seperti itu. Yahudi itu pun setuju.
Utsman segera mengumumkan pada penduduk Madinah yang mau mengambil air di sumur Raumah untuk mengambil secara gratis tanpa bayaran karena hari itu sumur adalah milik dirinya, namun usahakan mengambil air dalam jumlah yang cukup untuk 2 hari karena esok harinya sumur tersebut bukan lagi milik Utsman.
Sang Yahudi kemudian menyadari sumur miliknya sepi pembeli karena para penduduk sudah memiliki persediaan air untuk 2 hari, maka ia pun menawarkan Utsman untuk membeli setengah lagi sumur tersebut dengan harga total keseluruhan 20.000 dirham (sekitar 5 Miliar Rupiah). Maka sumur Raumah pun menjadi milik Utsman sepenuhnya, dan kemudian beliau mewakafkannya untuk kaum muslimin.
Setelah itu, daerah di sekitar sumur tersebut menjadi subur dan ditumbuhi pohon kurma, yang kemudian dipelihara oleh Daulah Utsmaniyah berkembang hingga saat ini pemerintah Saudi.
Selanjutnya Departemen Pertanian Saudi menjual hasil kebun kurma ini ke pasar-pasar, setengah dari keuntungan itu disalurkan untuk anak-anak yatim dan fakir miskin, sedang setengahnya ditabung dan disimpan dalam bentuk rekening khusus di salah satu bank atas nama Utsman bin Affan.
Rekening tersebut dipegang oleh Kementerian Wakaf. beberapa hasilnya uang dalam rekening itu mampu untuk membeli sebidang tanah di kawasan Markaziyah (area eksklusif) dekat Masjid Nabawi, yang kemudian dibangun hotel berbintang lima di tanah atas nama Utsman bin Affan. Masya Allah!
Inilah hasil perniagaan Utsman dengan Allah yang tidak berisiko kerugian. Hingga saat ini lebih dari 1.400 tahun, rekening atas nama Utsman bin Affan tersebut masih ada dan terus-menerus menghasilkan manfaat yang beranak pinak.
mari berwakaf jariyah masjid, wakaf tanah, wakaf tunai wakaf uang wakaf melalui uang berbagai cara berwakaf untuk menguatkan dakwah keislaman menguatkan tancapan amal kebaikan mengukir kebaikan yang berbuah keberkahan yang tanpa putus